Profil Pimpinan Al Aqsha Travel

Profil Pimpinan Al Aqsha Travel

Pak Didi, panggilan akrab dari Kadrie Abdul Hadi, pengusaha muda dalam dunia pelayanan fasilitas umroh dan haji. Dalam dunia travel saat ini, Pak Didi termasuk dalam kategori sukses. Bagaimana tidak, lebih dari 30.000 (tiga puluh ribu) paspor dalam setahun (satu musim umroh/6 bulan) beliau layani dari jamaah yang berangkat menunaikan ibadah ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah.

Tidak tanggung-tanggung, tiga travel besar menjadi miliknya, yaitu Al Aqsha Travel, Edipeni dan Kaila Wisata. Beliau juga menjadi petinggi dibeberapa organisasi, salah satunya sebagai bendahara Asosiasi Pengusaha Haji Umrah dan Inbound Indonesia (ASPHURINDO).

Lebih dari 90 travel yang bergabung menjadi anggota konsorsium yang digagasnya bersama SPIDEST Internasional yaitu konsorsium “Spiritual Journey”.

Dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan bimbingan spiritualitas bagi para jamaah , bersama Ustad Zainurrofieq, Pak Didi mensosialisasikan program Manasik Qolbu, yang kini sudah menyebar lebih dari 70 kota dan kabupaten di Indonesia.

Dunia travel mulai dimasukinya sejak 1984. Pak Didi meniti karier di dunai travel dengan ikut berkarya dan belajar dari travel saudaranya. Dan pada tahun 1994 barulah beliau mengibarkan jasa travel umroh dan haji.

Dalam kamus kerja suksesnya, ada “dua wanita” yang ikut andil dalam mendukung kesuksesan yang diraihnya, yaiut ibunda tersayang dan istri tercinta.

Pria kelahiran 10 Nopember 1972 ini lahir dari ibu yang muallaf keturunan Tionghoa. Lantunan doa-doa orangtuanya senantiasa diharapkan agar semua pekerjaan yang digelutinya maraih kesuksesan. Keterbatasan ilmu dan lingkungan agama tidak menjadikan surut dan terbatas dan terbatas dalam dunia spiritualitasnya. Justru sebaliknya, beliau semakin haus mencari dan menggali keislaman yang dipadukan dengan kinerja kesuksesan, karena ia sangat memiliki keyakinan bahwa islam adalah agama yang menyejahterakan. Hal ini memang terbukti dan sudah beliau rasakan.

Diakuinya pula, kariernya sangat terbantu dan pesat dengan peran aktif sang istri tercinta yang juga seorang muallaf, yaitu Hj. Chris Maharani, dan kini dikarunia 4 (empat) orang anak. Keluarga adalah prioritas utama. Keluarga adalah amanat pertama Sang Khalik Allah ‘Azza wa Jalla, sebelum melakukan berbagai pekerjaan di kantor.

Menurut Pak Didi, kebiasaan buruk para pengusaha adalah selalu susah dalam menyelenggarakan kewajiban membayar utang. Beliau selalu mengingatkan dua hal yang harus disegerakan, yaitu bayar utang dan shalat di awal waktu. Diakuinya, banyak partner bisnisnya yang usahanya seolah tidak berkembang, karena selalu menunda-nunda kewajiban membayar utang. Padalah, itulah sebenarnya ganjalan dan rintangan terbesar dari kesuksesan karier perusahaannya. Bahkan, tak ayal bila banyak pengusaha yang terjerumus dalam utang besar karena tidak punya keinginan untuk memperbaiki dan mempercepat upaya maksimal dari penuntasan kewajiban tesebut.

Dunia usaha, apalagi bidang jasa, biasanya selu lupa waktu, apalagi perbedaan waktu antara Tanah Suci di Saudi Arabia dengan jam kerja di Jakarta. Adakalanya hal itu membuat seseorang tak ingat jadwal

Nara sumber : Majalah Bulettin Albina bulan September 2014

PROFIL AL AQSHA TRAVEL