Tukang Kredit Beribadah ke Tanah Suci

MADINAH–Dedi Miftahudin (37) memutuskan merantau ke ibu kota ketika ia masih sangat muda. Setelah tamat SD dan nyantri kalong selama lima tahun, pria asal Pasirkadu, Baregbeg, Kabupaten Ciamis itu  meninggalkan kampung halamannya. ”Ti dinya abdi ngawitan ngiriditkeun barang, ti enol (Saat itulah saya memulai usaha menjadi tukang kredit dari nol),” ujarnya memulai kisah.
Setiap hari, ia berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya di Jakarta untuk menjajakan sekaligus menagih utang kepada para langganan. ”Abdi sok nguriling di dua tempat, nyaéta Cengkaréng sareng Jatinegara. Unggal dinten éta téh. Nya, icalan rupi-rupi, naon wé anu dipriyogikeun ku konsumén. Ti ngawitan barang pecah belah, anggéan…malah, abdi ge kantos ngiriditkeun tipi sareng pélek motor (Saya suka keliling di dua tempat, yakni Cengkareng dan Jatinegara. Setiap hari. Jualan apa saja yang dibutuhkan oleh pelanggan, mulai dari barang pecah belah, pakaian…malah saya juga pernah ngriditin televisi dan pelek motor),” katanya.
Usaha keras Dedi ternyata berbuah manis. Bisnis kredit barang yang ia bangun kian membesar, dengan keuntungan bersih Rp 1 juta per hari. Namun, ia tak ingin makan rezeki itu sendiri.Apalagi, ia memang sudah kewalahan jika mengurus usaha itu seorang diri. ”Abdi nyandak pagawé dugi ka aya sapuluhna (Saya merekrut pegawai hingga sepuluh orang),” ujarnya.
Tak terasa, lima belas tahun sudah Dedi merantau menjadi tukang kredit.
???
Kami bertemu secara tak terduga di lantai dua Masjid Nabawi, Kota Madinah, Minggu (29/9/2013) seusai salat Subuh. Ia tengah berjalan di koridor masjid sambil menikmati suasana pagi ketika matahari terbit.
Sinar keemasan menara-menara yang menjulang lalu mencipta komposisi warna nan begitu indah. Saat itulah kami saling menyapa dan langsung terlibat obrolan hangat.
Dedi melanjutkan kisah. Tiga tahun lalu, kesepuluh pegawainya memutuskan untuk melepaskan bayang-bayang Dedi. Mereka menjalankan usaha itu secara mandiri. Dedi mengaku tak keberatan.”Nya meureunan hoyong mandiri, da kabita ningali kauntungan anu lumayan. Komo, kan masing-masing tos boga langganan sorangan (Ya, mungkin mereka ingin mandiri, tertarik melihat keuntungan dari usaha itu lumayan besar. Apalagi, kan masing-masing sudah punya langganan),” ucapnya.
Pada tahun itu pula, Dedi memutuskan untuk menginvestasikan uang hasil keuntungan usaha. Semula, ia ingin semua uang itu dibelikan kebun. Belakangan, ia berpikir lain.Sebagian uang ia belikan kebun, sebagian dijadikan modal untuk membuat warung di rumah, dan sebagian lagi dibayarkan ke bank sebagai biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) bersama sang istri.
Abdi ngalih ka lembur, tapi anger bulak-balik ka Jakarta neraskeun usaha. Tapi, dipikir-dipikir capé ogé. Ahirna, usaha di Jakarta abdi tinggalkeun. Ayeuna, bener-bener cicing di lembur, ngawarung…nya aalitan wé (Saya pindah ke kampung, tetapi tetap bolak-balik ke Jakarta, meneruskan usaha. Namun, setelah dipikir-pikir, capek juga. Akhirnya, usaha di Jakarta saya tinggalkan. Sekarang, saya benar-benar menetap di kampung, membuka warung…ya kecil-kecilan,” katanya.
Tiga tahun menunggu, Dedi dan sang istri berkesempatan mengunjungi Tanah Suci. Ia mengaku senang bukan kepalang. (hazmirullah/mch)
Minggu, 29 September 2013   Sumber : jurnal Haji Umroh
  • 0800-123456 (24/7 Support Line)
  • info@example.com
  • 6701 Democracy Blvd, Suite 300, USA
× Informasi Umroh ? Klik Disini